4+ Teknik Funneling Versi Saya Saat Beriklan

Pada tulisan kali ini saya akan membahas beberapa teknik Funneling Facebook Ads yang biasa saya pakai ketika beriklan. Disclaimer : cara-cara di bawah ini cukup baik hasilnya ketika saya jalankan, tapi bisa jadi berbeda hasilnya ketika Anda terapkan.

Perbedaan produk, margin profit, budget iklan, targetting audience, layout dan kecepatan landing page, copywriting, alur pemesanan, dan hal lainnya, semua mempengaruhi angka-angka di dashboard Ads Manager. Jadi usahakan untuk selalu lakukan split test.

Dengan banyaknya fitur yang disediakan oleh Facebook untuk beriklan, ngga heran kalau banyak sekali beredar cara dan strategi berbeda-beda untuk menjalankannya.

Tinggal Anda yang harus memilih, mau beriklan menggunakan teknik mana yang menurut Anda paling bagus, atau setidaknya mendekati proses mempercepat pencapaian goal beriklan Anda ( mendapatkan konversi penjualan ). Jadi, ayo segera kita mulai.

Disclaimer : Cara di artikel ini ditulis subjektif berdasarkan pengalaman pribadi dan produk / jasa yang pernah / sedang saya iklankan. Jangan 100% menelan mentah-mentah.

Silahkan dipahami, dimengerti, dan disesuaikan dengan bisnis masing-masing. Karena terkadang ada produk yang ngga perlu funnel aneh-aneh, dan ada juga produk yang bahkan membutuhkan funnel lebih kompleks daripada yang saya tulis di bawah ini.

Teknik Funneling Facebook Ads

Sebelum masuk ke pembahasan utama, saya ingin menyinggung sedikit tentang Funneling. Funnel artinya kan corong. Jadi kenapa namanya funneling ? Karena fungsinya seperti corong, menyaring dari jumlah awal yang banyak menjadi sedikit.

Hal yang sama juga terjadi di dalam iklan Facebook. Kenapa harus menerapkan teknik funneling ? Ya untuk menyaring target audience yang awalnya berjumlah banyak, masih mentah, belum tertarik dengan produk Anda ( apalagi beli ), agar semakin mengerucut jadi jumlah yang jauh lebih spesifik, namun memiliki daya beli yang jauh lebih besar.

Khususnya di dalam Facebook Ads, metode funneling bisa dilakukan dengan memanfaatkan kombinasi objective campaign yang tersedia, dan dengan metode targetting dan sudut pandang konten iklan yang berbeda-beda, menyesuaikan level funnel.

Saya akan coba bahas satu per satu cara funneling yang biasa saya lakukan ketika beriklan di Facebook. Kalau ada yang ngga ngerti, silahkan langsung tanyakan di komentar.

Beberapa teknik di bawah mengacu pada data studi kasus ini :

  • Produk yang dijual : Madu herbal seharga 350.000 per toples / jar.
  • Alur penjualan : Landing page ( ViewContent ) => Klik tombol order Whatsapp ( AddToCart ) => Setelah transfer masuk halaman konfirmasi & terima kasih ( Purchase )

Jadi kalau saya berulang kali menyebut ViewContent, AddToCart dan Purchase Anda sudah paham ya posisi masing-masing pixel tersebut ada di halaman mana.

1. Video View – Conversion – Reach

Ini adalah teknik funneling versi pertama yang biasa saya lakukan, dengan mengkombinasikan 3 objective sekaligus yaitu Video Views, Conversion, dan Reach.

1.1. Triggering

Di hari pertama saya menjalankan iklan Video Views dengan konten video untuk mengedukasi target market. Produknya kan madu herbal, maka saya akan mengiklankan video yang berisi khasiat-khasiat madu untuk tubuh jika di konsumsi secara rutin.

Iklan tersebut saya jalankan dengan budget 50.000-75.000 per hari menggunakan broad audience targetting. Hasilnya, saya akan memfilter orang-orang yang sudah menonton video untuk dijadikan Custom Audience video viewer 50%, 75% dan 95%.

Artinya, jika orang melihat iklan saya dan menonton video tersebut sampai habis ( atau minimal 50% ), bisa dianggap bahwa mereka punya ketertarikan dengan informasi yang saya berikan. Di fase ini saya jalankan 2-3 Adset untuk split test targetting.

1.2. Soft Selling

Saya sudah punya database CA berupa video viewers hasil iklan tahap pertama.

Di hari ke 4 atau 5 saya menjalankan iklan baru menggunakan objective Conversion. Iklannya bersifat soft selling atau story telling dan mengarahkan ke landing page produk madu. Target iklannya adalah LLA dari CA penonton video di iklan yang pertama.

Adset pertama berisi LLA 1%. Adset kedua berisi LLA 2%, Adset ketiga berisi LLA 3%, begitu seterusnya hingga Adset ke lima berisi LLA 5%. Semua Adset menggunakan optimasi ViewContent di dalamnya. Saya menerapkan metode split test lagi di fase ini. Iklan dijalankan dengan metode CBO menggunakan budget 75.000-150.000 per hari.

Iklan ini bertujuan menggiring orang-orang yang memiliki karakter sama dengan penonton video saya di iklan pertama untuk masuk ke dalam landing page yang berisi halaman penjualan madu herbal. Agar saya bisa menangkap mereka melalui pixel ViewContent.

Metode ini berjalan baik di saya, karena audience nya berupa LLA, setingkat lebih baik dibandingkan broad audience. Jika saya harus beriklan ke broad audience di fase pertama dan langsung mengarahkan ke landing page, biasanya konversinya ngga bagus.

Seharusnya, di fase ini sudah ada beberapa penjualan yang terjadi.

1.3. Retargetting

Di tahap pertama iklan Video Views terus berjalan dan menghasilkan CA penonton video. Di tahap kedua iklan Conversion terus berjalan dengan menargetkan LLA dari CA yang semakin matang ( iklan Video Views terus berjalan ). Datanya terus bertambah.

Sekitar hari ke 9 atau 10 saya akan menjalankan iklan dengan objective Reach. Audience yang saya targetkan di sini adalah CA ViewContent exclude AddToCart ( menghubungi Whatsapp ), dan juga CA AddToCart yang belum melakukan pembayaran ( Purchase ).

Sehingga saya akan jalankan 2 Adset dengan angle penawaran iklan yang berbeda.

  • Adset CA ViewContent kontennya mengajak mereka untuk menghubungi admin agar melakukan pembelian. Saya menekankan pada benefit agar mereka aware.
  • Adset CA AddToCart kontennya mengingatkan mereka untuk melakukan pembayaran, dan terkadang saya juga menawarkan diskon tambahan sebagai gimmick.

Tujuan iklan di fase ini adalah untuk retargetting, atau mengingatkan kembali bagi orang-orang yang sudah masuk landing page tapi ngga lanjut ke Whatsapp, dan kepada mereka yang sudah melakukan order via Whatsapp tapi belum lakukan transfer.

Dengan cara ini terkesan saya “menghantui” audience dengan berbagai angle iklan, sampai mereka membeli produk madu saya. Paham alurnya ? Sederhana kok, yang penting adalah kualitas iklan Anda, dan juga memaksimalkan pixel Facebook.

Oiya, khusus untuk orang yang sudah order tapi belum transfer, selain melalui retargetting iklan saya juga melakukan follow up melalui Whatsapp. Kan udah punya nomornya.

2. Brand Awareness – Traffic

Teknik funneling iklan Facebook berikutnya yang sering saya lakukan adalah mengkombinasikan 2 objective saja, yakni Brand Awareness dan Traffic. Bagaimana penerapannya ?

2.1. Edukasi Produk

Di tahap awal beriklan saya menggunakan objective Brand Awareness berisi video untuk mengedukasi target market tentang keunggulan & manfaat produk madu saya. Kenapa selalu menggunakan video ? Karena tingkat attention nya lebih tinggi di banding gambar.

Dengan budget 50.000-75.000 per hari iklan ini saya jalankan dengan split test beberapa Adset. Targetnya bukan penjualan. Tujuan iklan hanya untuk membuat audience aware tentang keunggulan produk saya dan apa manfaatnya bagi mereka.

2.2. Retargetting Step 1

Di hari ke 4 atau 5 saya menjalankan iklan Traffic untuk mengarahkan audience ke Landing Page. Audience yang saya targetkan adalah CA penonton video hasil dari iklan Brand Awareness tahap pertama, yang di bagi jadi 3 Adset yaitu viewer 50%, 75% dan 95%.

Pada tahap ini iklan bersifat soft selling atau story telling kepada orang-orang yang sudah pernah lihat informasi produk saya, namun belum melakukan pembelian / masuk ke web. Seharusnya mereka akan lebih mudah masuk ke landing page karena sudah aware.

2.3. Retargetting Step 2

Iklan tahap pertama terus berjalan dan menghasilkan CA berupa penonton video. Iklan tahap kedua juga terus berjalan untuk retargetting penonton video agar masuk ke website. Artinya database CA ViewContent juga terus bertambah seperti bola salju.

Di tahap ketiga saya menjalankan iklan baru menggunakan objective Traffic, berisi 2 Adset dengan budget 25.000-50.000 per hari. Adset pertama menargetkan CA ViewContent exclude AddToCart, dan Adset kedua menargetkan CA AddToCart exclude Purchase.

Di tahap ini saya “menghantui” orang-orang yang sudah masuk landing page tapi ngga beli, serta orang-orang yang sudah menghubungi Whatsapp, sudah order, tapi belum bayar.

3. Traffic – Conversion – Reach

Teknik yang ketiga ini mungkin yang paling umum Anda tau, bahkan sedang Anda gunakan saat ini. Saya pun menggunakannya, karena masih sangat powerfull. Alurnya pun sederhana, hanya melibatkan 3 campaign dan memanfaatkan event pixel Facebook.

3.1. Datangkan Traffic

Sejak hari pertama saya menjalankan iklan menggunakan objective Traffic dengan split test target broad audience yang terbagi dalam beberapa Adset. Untuk alokasi budget sekitar 50.000-150.000 per hari menggunakan fitur Campaign budget optimization.

Tujuan iklan ini adalah untuk mencari performa komposisi audience terbaik, dan mengarahkan mereka ke dalam landing page produk. Kalau sales copy landing page Anda super keren, biasanya bisa langsung terjadi penjualan. Selain itu tujuan iklan ini untuk membangun database ViewContent alias pengunjung landing page produk madu saya.

3.2. Story Telling / Soft Selling

Di hari ke 4 atau 5 saya menjalankan iklan Conversion dengan 3-5 Adset. Budgetnya kisaran 50.000-150.000 per hari dengan target audience LLA 1% hingga 5% dari CA ViewContent.

Campaign Traffic di tahap awal terus berjalan menggiring audience ke landing page dan terus menghasilkan data ViewContent. Otomatis CA ViewContent semakin matang, yang berimbas pada kualitas LLA semakin baik. Seharusnya di tahap kedua terjadi lebih banyak penjualan.

3.3. Retargetting

Iklan tahap pertama dan kedua sama-sama menggiring orang menuju ke website, dengan target audience yang berbeda. Otomatis CA ViewContent dan AddToCart juga terus bertambah.

Maka di fase ketiga ini saya menjalankan campaign Reach untuk melakukan retargetting terhadap seluruh pixel yang masuk ( ViewContent & Add ToCart ) yang belum transfer ( Purchase ).

4. Teknik Favorit : Conversion

Nah, ini adalah cara yang paling sering saya pakai beberapa waktu terakhir. Dengan catatan, Anda bisa melakukan teknik ini jika kondisi pixel event Anda sudah sangat matang.

Kali ini alur penjualan saya menggunakan form ( berbeda dengan 3 teknik sebelumnya ). Tujuannya agar saya bisa memilah-milah pixel event nya. Prosesnya seperti ini :

  • ViewContent : Orang yang baru masuk Landing Page
  • AddToCart : Orang yang klik tombol order ( direct ke halaman form )
  • InitiateCheckout : Orang yang berada di halaman form pemesanan
  • Purchase : Orang yang sudah isi form & masuk halaman terima kasih

Terbayang alurnya ? Ketika mereka sudah sampai di tahap Purchase, saya tinggal menghubungi mereka via Whatsapp untuk menyelesaikan pembayaran. Biasanya, audience sudah tidak banyak chat untuk bertanya lagi, dan langsung transfer pembayarannya.

4.1. Edukasi

Kunci teknik funneling Facebook Ads kali ini adalah memanfaatkan fitur optimasi pixel di level Adset, yang hanya ada di objective Conversion. Di hari pertama saya beriklan menggunakan objective Conversion yang di optimasi ViewContent, dengan target broad audience.

Facebook akan mengoptimasi iklan kepada orang-orang yang mirip dengan karakter pixel ViewContent yang sudah saya punya. Makin banyak jumlah data ViewContent, makin valid dan presisi bagi Facebook untuk mengoptimasi iklan saya ke orang-orang yang similar.

Iklan berjalan dengan budget 50.000-200.000 per hari, split test beberapa Adset.

4.2. Soft Selling

Seiring berjalannya iklan, pixel ViewContent dan AddToCart semakin bertambah kan ? Di hari ke 4 atau 5 saya membuat Adset baru di campaign yang sama dengan menargetkan CA ViewContent exclude AddToCart. Adset tersebut saya jalankan dengan optimasi AddToCart.

Artinya, algoritma Facebook akan mengoptimasi iklan saya kepada orang – orang yang sudah ViewContent ( masuk landing page ) agar segera melakukan AddToCart.

4.3. Hard Selling

Hari ke 9 atau 10 saya membuat Adset baru dengan audience CA AddToCart exclude InitiateCheckout, alias yang sudah klik order tapi ngga lanjut ke halaman form ( mungkin internetnya lemot atau hal lain ). Adset ini dijalankan dengan optimasi InitiateCheckout.

4.4. Finishing

Langkah terakhir di hari ke 12 – 13 kembali saya membuat Adset baru dengan audience CA InitiateCheckout exclude Purchase alias yang sudah melakukan pembayaran. Sehingga totalnya saya menjalankan 4 Adset utama dalam satu campaign pada teknik ini.

Kunci 4 Teknik Diatas

Dari keempat teknik funneling di atas, sebenarnya ada sebuah kesamaan pola. Iklan yang berjalan di awal saling memberikan “sumbangsih” data audience untuk target iklan fase berikutnya.

Misalkan pada teknik pertama, iklan Video Views menghasilkan CA yang dipakai membuat LAA dan diiklankan dengan Conversion di fase kedua. Dan iklan Conversion akan menghasilkan data ViewContent dan AddToCart yang digunakan untuk retargetting iklan Reach di fase ketiga.

Selama ketiga iklan itu terus dijalankan, maka data-data audience yang masuk akan terus bertambah banyak, menggulung seperti bola salju. Dan masing-masing iklan akan terus mengoptimasi audience yang dihasilkan oleh iklan sebelumnya. Saling berkaitan kan ?

Semua alur iklannya tetap sama, edukasi produk / benefit => soft selling / story telling => retargetting / hard selling. Saya hanya perlu sesekali mengganti Adcopy atau Ad image agar target market tidak jenuh melihat iklan yang sama berulang-ulang. Jadi untuk sebuah rangkaian alur iklan saya bisa jalankan hingga beberapa minggu, bahkan bulan.

Kesimpulan

Seperti yang saya katakan di awal, bahwa fitur-fitur yang tersedia di Facebook Ads sangat banyak, dan kombinasi cara beriklan yang bisa Anda lakukan juga sangat banyak.

Jadi menurut saya tidak ada teknik yang benar atau salah, yang ada hanyalah teknik yang menghasilkan atau tidak. Yang salah adalah kalau Anda tidak mencoba apapun.

4 teknik beriklan di atas sudah saya jalani cukup lama dan menghasilkan konversi yang baik untuk beberapa produk. Jadi semuanya kembali kepada Anda, untuk memilah-milah mana yang menurut Anda paling worth it untuk dilakukan, maka fokus dan lakukan.

Catatan : Kalau komentar-komentar di bawah ada yang ngga nyambung dengan artikelnya, ngga usah bingung. Bisa jadi mereka memang menanyakan kasus pribadi, atau menanyakan isi artikel ini pada versi yang dulu ( artikel ini terus saya update mengikuti perkembangan terbaru ).

Demikian pembahasan 4 teknik funneling Facebook Ads yang biasa saya lakukan. Semoga memberikan insight bermanfaat untuk Anda. Selamat beriklan !

 

Diskusi Pembaca . . .

  1. Halo mas saya ingin bertanya, bagaimana ya caranya agar CPM (cost per impression) nya rendah? Soalnya saya selalu dapet CPM diatas 30rb (industri fitness), jadinya walaupun ads convert, landing page convert semuanya jadi sia sia.. tolong bantuannya mas terima kasih

    Balas
    • CPM adalah biaya yg dikeluarkan setiap iklan kita menjangkau 1.000 impresi / tayangan. Semakin sulit Facebook mencapai 1.000 impresi dari audiens yg Anda targetkan, semakin mahal biaya yg akan ditagih oleh Facebook.

      Kenapa bisa kejadian sulit mencari 1.000 impresi ? Bisa karena beberapa hal.

      Misalnya, iklan sdh jenuh. Terlalu sering tampil ke orang2 yg sama. Facebook kesulitan cari orang baru. Efeknya harga akuisisi audiens alias CPM melonjak.

      Atau karena sebab lain, dan ini sdh “kodratnya” pesbuk : semakin besar jumlah audience, semakin turun kualitasnya. Maka biaya akuisisi audiens alias CPM akan melonjak agar iklan Anda tayang ke orang2 yg tepat.

      Jadi memang sdh kodratnya.

      Solusinya ?

      1. Pastikan metriks yg lain dari hulu ke hilir tetap baik. Seharusnya, kalau semuanya metriks above average, harusnya sih ada sales. Ketika sales stabil & profit, CPM mahal bukan jadi masalah lagi. Semakin besar budget, semakin besar audiens, sdh pasti semakin mahal biaya per akuisisi alias CPM nya. Sdh kodratnya begitu.

      2. Jualan bundling, intinya jualan dlm jumlah banyak. Jadi sekali jln iklan untuk terjadi multiple sales.

      Malah saya tertarik statement mas blg ads convert & landing page convert tp percuma. Kalau emang beneran convert, harusnya terjadi sales dong ? Nah, profit ngga ?

      Mending CPM mahal tp profit, atau CPM murah tp boncos ? Hehe

      Jangan minta CPM murah dan profit ya, karena bisnis tak seindah kata-kata mutiara para pujangga, haha.

      Balas
  2. Assalamualikum..

    Salam kenal mas, semoga selalu sehat dan di hindarkan dari berbagai penyakit..
    Mas saya ingin minta beberapa masukan dari mas tentang fb ads ini. kebetulan saya masih awam banget dan mau coba iklan.

    Saya sebelumnya reseller kosmetik brand A dan sudah punya kontak WA sekitar 1800 kontak tercampur dari yang tanya dan beli.. Dikarenakan brand A tutup kemudian saya mulai jadi reseller kosmetik brand B dan brand ini launching bulan maret ini.

    yg ingin saya tanyakan.
    1. bisakah saya pakai kontak WA tersebut untuk di jadikan CA.
    2. jika bisa teknik yg direkomendasikan pakai yang mana mas? kebetulan saya udah ada landing page yang sudah ditanam pixel tapi saya awam soal fb ads ini.
    3. untuk pertanyaan berikutnya nyusul mas karena emang belum action jadi belum tau mau tanya apalagi.

    terimakasih

    Balas
    • Wa’alaikumsalam,

      Aamiin Allahumma aamiin. Terima kasih mas, doa yang sama untuk mas Panggih, semoga sehat selalu.

      1. Utk jadi CA ya ? Bisa banget. Produk yg sama, atau niche yg sama.
      2. Kosmetik ya ? Mungkin bisa pakai VideoViews di awal, kalau punya video. Bisa video edukasi / video teaser. Video Viewers nya dijadikan CA. Lalu lanjut pakai Traffic saja, beriklan ke CA WA, CA VideoViews, dan ke LLA. Terakhir di retarget VC landing page pakai Reach.
      3. Siap mas, jangan sungkan untuk bertanya kalau ada kendala.

      Balas
  3. Halo, nama saya Fara salam kenal. Saya ingin menanyakan beberapa hal

    1. Apakah teknik yang anda gunakan ini masih worth it sampai saat ini?
    2. melihat tulisan anda, dimana anda masih pakai Whatsapp, apakah buyer anda ada yang pernah meminta COD, dan jika iya, bagaimana anda mengatasinya disaat anda tidak bisa melakukan COD disaat itu

    Sedikit saran,

    – mungkinkah anda bisa melakukan minimize untuk komentarnya, butuh waktu cukup lama untuk scrolling dan menemukan kolom komentar.
    – Sepertinya ini mempengaruhi Web anda, karena disaat saya mengerikan tulisan ini, ini terasa begitu lambat di Hp saya, atau mungkin ini memang hanya terjadi di saya.
    – Untuk yang mau membaca Full komentar, mungkin bisa di setting komentarnya akan Full, jika dia mau reload gitu mungkin.

    Yah, ini hanya saran saya, lagi pula ini website anda, tapi saya harap ini tidak mengganggu pengunjung Website anda yang lainnya. terima kasih

    Balas
    • Salam kenal Fara, terima kasih sudah berkenan mampir.

      Teknik di tulisan ini masih menghasilkan, dan saya masih menggunakannya. Anyway, kebetulan margin profit saya emang agak longgar, jd lebih leluasa bermain kombinasi campaign. Dan saya tau tdk bisa dipukul rata kondisinya. Makanya ( kalau Anda perhatikan ) seringkali saat menjawab komentar teman2 saya menyarankan cara yg justru tdk ada di artikel ini.

      Karena menurut saya teknik beriklan sifatnya sangat-sangat dinamis menyesuaikan berbagai hal, seperti produknya, harganya, audiensnya, budget plan, dan banyak lagi.

      Saya jualan jasa saat ini, jadi tdk ada COD. Kalaupun dulu jualan produk saya ngga pernah main COD jadi diarahkan ke transfer. Opsi lain, kalau memang butuh COD, saat calon buyer sdh deal ingin beli, diarahkan via Marketplace manfaatkan fitur COD nya.

      Poin saya pakai WA karena saya punya kontrol lebih besar untuk handling calon buyer. utk mengurangi angka bounce leads alias kabur, sekaligus menaikkan closing rate. Karena menurut saya masih banyak segmen audiens Indonesia yg blm aware ( atau mungkin ngga suka ) dengan yg otomatis2 macam pakai form gt, kecuali brand sdh besar macam Tokopedia.

      Anyway thanks banget sarannya Fara. Bodohnya saya tdk mempertimbangkan itu. Soalnya di saya lancar saja via laptop dan hp. Tapi tetap sarannya sangat berguna.

      Jadi saat ini sudah saya terapkan pagination comment per 10 top level komentar pindah halaman, jadi ke bawahnya ngga terlalu panjang, hehe.

      Sekali lagi, thanks Fara sudah remind me.

      Balas
      • Setelah membaca jawaban anda secara keseluruhan, saya memiliki beberapa hal yg membuat saya penasaran

        1. mengurangi angka bounce.
        Jika seseorang klik iklan kita di fb, mereka akan diarahkan ke Landing Page (tergantung campaign yg dipilih) nah, disini saya menyadari sesuatu.
        Bukankah sebaik apapun Landing Page beserta copywriting dan produknya, pasti akan ada orang yg kembali ke fb (bounce), dan bukankah ini akan mempengaruhi iklan kita di mata fb. Yah walaupun kita bisa mengajak mereka kembali saat menjalankan iklan retargeting, tapi tetap saja akan ada bounce.
        Apakah anda punya solusi untuk hal ini?

        2. Saya sering melihat banyak orang menggunakan Landing Page dengan Soft selling, yg terkesan cukup panjang, tapi bukankah sekarang sudah banyak pengguna advertising facebook Ads, beserta online shop di Indonesia, bukankah saat mereka masuk landing Page kita, kebanyakan mereka sudah tau, bahkan ada beberapa yg sudah tau saat melihat iklan.

        Saya tau akan lebih baik hasilnya jika langsung di Test karena setiap Audience berbeda beda kebutuhannya. Tapi tetap saja, saya ingin menanyakannya.

        Menurut pengalaman anda, sebagai advertising facebook Ads, Lebih baik mana Landing Page yg direct selling atau Soft selling di anda?

        Untuk saran itu anda tidak perlu berterima kasih, saya melakukannya hanya untuk memenuhi ego saya, tapi itu juga bagus jika bisa membantu anda

        Balas
        • 1. Solusi mengurangi bounce rate ? Ya dengan landing page & sales copy yg efektif, agar orang tdk pergi, agar orang tertarik, stay di web kita. Tidak akan ada bounce rate 0%, selalu ada yg bounce, dan itu hal yg wajar, tidak perlu dipusingkan. Makanya Facebook menciptakan pixel, utk retargetting orang yg bounce.

          Kecuali kasusnya saat klik iklan banyak yang bounce, blm sempat msk web karena lemot. Solusinya ya jelas, perbaiki load speed.

          2. Anda mengatakan “sudah tau” karena memang Anda sudah tau. Anggaplah semua orang tau. Yang jadi poin disini bukan masalah tau atau tidak. Tujuan landing page dengan penjelasan yg lengkap & “merayu” adalah untuk mempersuasi orang yg sdh tau agar consider dan akhirnya melakukan konversi.

          Kenapa banyak landing page dengan bentuk softselling yg panjang ? Karena memang itu menghasilkan konversi. Makanya banyak yg bikin dengan model seperti itu.

          Dan Anda sudah menjawabnya sendiri, jawaban terbaiknya adalah dengan tes. Dan memang tdk semua produk butuh landing page yg panjang.

          Saya ? Tidak ada yg lebih baik, karena tdk bisa digunakan hanya salah satu. Saya menggunakan softselling pada jenis audiens yg tepat, dan hardselling juga pada jenis audiens yg tepat. Mengkombinasikan keduanya.

          Balas
  4. Halo mas saya ingin bertanya, menurut pengalaman mas alief saat kita sudah mengumpulkan pixel (VC misalnya) lalu kita ke next step yaitu bikin LLA VC apakah bagus jika objective conversion optimasi nya hanya VC? Apakah di step ini seharusnya terjadi penjualan atau tidak? karena bukannya jika kita optimasi ke VC kita menyuruh facebook agar menemukan audience yang most likely masuk ke landing page saja ya tidak ke step berikutnya (order via WA taruh pixel ATC) ataukah lebih baik langsung optimasi ATC saja? terima kasih mas alief, mohon bantuannya..

    Balas
    • Halo mas,

      Benar, prinsipnya seperti itu. Artinya audience yg masuk yg karakternya sesuai dengan VC LP kita. Bukan broad lagi.

      Kalau pixel ATC nya sudah matang, misalnya sdh diatas 1.000, blh saja start iklan LLA langsung optimasi ATC. Kalau belum, saya biasa mulai dari VC lagi ( seperti yg saya tulis di artikel ini, diasumsikan pixel ATC masih sangat sedikit ). Apakah ada penjualan ? Di kasus saya ada mas, meskipun blm maksimal.

      Sambil saya mengumpulkan pixel ATC nya.

      Balas
  5. Sangat daging mas informasinya,

    Saya ingin menanyakan mengenai teknik funnel traffic – conversion – retargeting. Dalam strategi ini pada langkah mana kita mengetahui bahwa produk tersebut dikatakan bagus. Karena dalam tahap traffic misalnya pasti kita akan mendapatkan CTR-link yang tinggi karena menggunakan objective traffic tersebut dan pastinya akan berbeda jika nanti pada tahap kedua hasil CTR-link untuk objective Conversion.. Jika Conversion dikatakan bagus untuk CTR-link 2% keatas , berapa CTR-link yang ideal untuk objective traffic dan bagus untuk dilanjutkan untuk tahap berikutnya ?

    Terima kasih.

    Balas
    • Salam kenal mas,

      Bisa baca artikel saya tentang “cara membaca data iklan”.

      Pada objective Traffic betul bahwa salah satu metriks yg penting utk di lihat adalah CTR. Karena sifat objective nya mentarget audience yg suka klik iklan dan masuk web.

      Pada objective Conversion, kurang tepat kalau hanya fokus ke CTR. Lihat jg result konversinya ( sesuai dengan pixel event yg di optimasi di level adset ), lihat cost per result nya.

      Terlepas dari itu semua, CTR yg baik bagi saya diatas 1% mas. Jika di bawah itu artinya ada masalah dengan konten iklan.

      Balas
      • Baik mas terima kasih,

        sekalian nanya lagi, jadi wajar ya untuk objective traffic drop ke landing page view/View content itu sangat besar ? karna yang kita minta karakterisitik audience yang suka klik . Sya hitung yang masuk landing page hanya masuk 20% untuk CTR-link 12%

        Karna biasanya setelah saya ganti iklan untuk objective conversion ( Tahap 2) biasanya dropnya dikit. sesuai dengan artikel membaca data iklan yaitu sekitar 75 % ( tanpa tweak website ). Saya cek di GTMetrik juga untuk fully loadednya itu 2,3 detik.

        Apakah hal tersebut normal mas?

        Balas
        • Maksudnya gmn ? Dari klik iklan ke landing page view hanya 20% ? Artinya ga banyak orang yg berhasil mendarat di web dong, padahal sdh klik iklan ( CTR link 12% seriusan ? Super tinggi lho ini ), artinya ada masalah dengan kecepatan akses web. Web ngga terbuka. Lemot.

          Objective Traffic emang bener yg dicari adalah audiens yg suka klik iklan. Tapi kan logikanya : saat mereka klik iklan, harusnya otomatis masuk web. Kalau yg msk web ternyata sedikit, artinya ada masalah. Artinya web ngga terbuka / lemot. Jadi banyak yg klik back / exit.

          Lagipula saat beriklan Traffic, di bagian Adset paling bawah, bagian optimasi, ganti aja ke landing page view, jangan link click.

          Utk iklan tahap 2 sdh normal. 75% itu angka yg bagus.

          Tapi kok aneh, saya blm pernah alami drop sampai 20% pakai Traffic, tp setelah beriklan di Conversion angkanya normal. Karena alurnya sama, klik iklan >> masuk web. Jadi kalau hasil di Traffic jelek, hasil di conversion ya pasti jelek jg. Karena emang web lemot.

          Balas

Mau Diskusikan Sesuatu ?

Jelaskan secara detail pertanyaan Anda agar saya bisa paham. Jangan pakai emoticon, nanti masuk spam.